Sejarah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW


Kisah Perjalanan / Sejarah Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw Yang Wajib anda Ketahui Kebenarannya – Isra’ berasal dari bahasa arab, artinya berjalan malam. Menurut istilah , Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa atau disebut Baitul Maqdis di Palestina.

Mi’raj dari bahasa arab berarti naik ke atas. Menurut istilah Mi’raj berarti naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju ke Al Arsy menghadap Allah subhanahu wa ta’ala.

Dengan demikin Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Para sejarawan berbeda pendapat dalam masalah kapan peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi, berikut kami kutibkan sebahagian pendapat mereka:

Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah -dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, beliau berkata:

“Peristiwa Isra ini, sebagian kecil berpendapat itu terjadi 15 bulan setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Harbi mengatakan bahwa itu terjadi pada malam 27 bulan Rabi’ul Akhir, satu tahun sebelum hijrah. Az-Zuhri mengatakan bahwa itu terjadi 5 tahun setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Nabi mengalami peristiwa Isra’ ketika agama Islam sudah tersebar di kota Makkah dan beberapa qabilah.”

Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama itu terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi’raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi’raj.

Terlepas dari perselisihan diantara sejarawan dalam masalah tanggal dan bulan Isra Mi’raj tersebut, kami mengikuti yang populer saja, khususnya di Indonesia. Dan menurut kami sangatlah wajar mereka berbeda pendapat dalam masalah tersebut, karena bisa dimungkinkan perbedaan dalam menyingkap suatu sejarah dan peristiwa yang telah lampau.

Dalil Al-Qur-an Tentang Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Namun yang pasti, kita sebagai umat Islam wajib untuk mempercayai peristiwa tersebut, dan dianggap kafir kalau tidak mempercayainya.

Allah subhanahu wa ta’ala bersabda dalam surat Al-Isra’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (1)

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “(17: 1).

Ayat tersebut diatas adalah salah satu bukti penguat dan sebagai dalil bantahan bagi orang-orang yang tidak mempercayai bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar melakukan Isra’ Mi’raj.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” HR. Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir.

Peristiwa-Peristiwa Tentang Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Adapun selain karena memang kehendak dan perintah Allah subhanallah wa ta’ala untuk mengisra’ mi’rajkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, marilah kita menengok peristiwa yang melatarbelakanginya. Dan bila kita membaca sejarah Islam, setidaknya ada tiga peristiwa penting yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Pertama, peristiwa boikot yang dilakukan orang kaum Quraisy kepada seluruh keluarga Bani Hasyim. Kaum Quraisy tahu bahwa sumber kekuatan Nabi Saw adalah keluarganya. Oleh karena itu untuk menghentikan dakwah Nabi saw. sekaligus menyakitinya, mereka sepakat untuk tidak mengadakan perkawinan, transaksi jual beli dan berbicara dengan keluarga bani Hasyim. Mereka juga bersepakat untuk tidak menjenguk yang sakit dan mengantar yang meninggal dunia dari keluarga Bani Hasyim. Boikot ini berlangsung kurang lebih selama tiga tahun. Tentunya boikot selama itu telah mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan khususnya kepada Nabi saw. dan umumnya kepada keluarga Bani Hasyim.

Kedua, peristiwa wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Peristiwa ini menjadi sangat penting dalam perjalanan dakwah Nabi SAW. sebab Abu Thalib adalah salah satu paman beliau yang senantiasa mendukung dakwahnya dan melindungi dirinya dari kejahilan kaum Quraisy. Dukungan dan perlindungan Abu Thalib itu tergambar dari janjinya,” Demi Allah mereka tidak akan bisa mengusikmu, kecuali kalau aku telah dikuburkan ke dalam tanah.” Janji Abu Thalib ini benar. Ketika ia masih hidup tidak banyak orang yang berani mengusik Nabi Muhammad saw, namun setelah ia wafat kaum Quraisy menjadi leluasa untuk menyakitinya sebagaimana digambarkan dalam awal tulisan ini.

Ketiga, peristiwa wafatnya istri beliau, Siti Khadijah ra. Peristiwa ini terjadi tiga hari setelah pamannya wafat. Siti Khadijah bagi Nabi saw. bukan hanya seorang istri yang paling dicintai dan mencintai, tapi juga sebagai sahabat yang senantiasa mendukung perjuangannya baik material maupun spiritual, yang senantiasa bersama baik dalam keadaan suka maupun duka. Oleh karena itu, wafatnya Siti Khadijah menjadi pukulan besar bagi perjuangan Nabi saw.

Tiga peristiwa yang terjadi secara berurutan itu sangat berpengaruh pada perasaan Rasulullah Saw. ia sedikit sedih dan gundah gulana. Ia merasakan beban dakwah yang ditanggungnya semakin berat. Oleh karena itu para sejarawan menamai tahun ini dengan ámul huzn (tahun kesedihan). Dalam kondisi seperti itulah kemudian Allah swt mengundang Nabi saw. melalui peristiwa isra dan mi’raj.

Dengan demikian dari latar belakang Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah satu hikmah yang bisa kita petik bahwa kesunnahan kita untuk menghibur orang yang sedang kesusahan dengan cara apa saja, asalkan tidak menyimpang dari Syariat islam serta tidak melampaui batas dalam menghibur diri.

0 Response to "Sejarah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW"

Post a Comment